Nomadic Bastard

revolt!: Untuk Menyerang Indonesia

1

lankdabangor:

untuk menyerang Indonesia, tidak perlu menyerang ideologinya

toh mereka sudah tidak memakainya lagi

untuk menyerang Indonesia, tidak perlu menyerang politiknya

toh politik mereka adalah perang saudara

untuk menyerang Indonesia, tidak perlu menyerang ekonominya

toh kita tinggal embargo…

Reblogged 1 year ago from spaceofblanklove

Ethnicity, still important to be a problem?

1

Beberapa hari yang lalu waktu nongkrong bareng teman2, saya mendapatkan selebaran yang dibagi2kan ke semua orang di tempat itu. Isinya tentang adanya ketersinggungan dari salah satu komunitas etnis lokal terhadap komunitas lain yang dianggap tidak lokal. Saya jujur saja tidak terlalu mengerti apa duduk perkaranya. Tetapi kemudian hal ini menjadi lucu sekaligus meresahkan bagi saya. Mengapa semakin banyak orang rasis di dunia ini.

Selebaran itu menghimbau kepada semua orang untuk ikut mengepung dan melakukan pengganyangan terhadap masyarakat beretnis cina karena telah melecehkan salah satu warga toraja. Sy kemudian bertanya, apa beda suku toraja dan cina hari ini? Mereka sama2 lahir disini, besar disini, hidup disini, sama2 makan nasi, minum jg dari sumber air yang sama. Tapi kenapa mesti ada yang pribumi ada yang pendatang? KTP pun sama2 keluaran Indonesia, tapi kenapa harus ada yang diganyang? Kenapa sensitifitas etnis selalu dijaga? Kenapa perbedaan selalu diperuncing?

Tadi sore saya sempat mengobrol dengan salah seorang kawan tentang masalah ini. Kami memperbincangkan soal banyaknya ekslusi antar etnis yang terjadi di Indonesia pada umumnya dan Makassar pada khususnya. Lucu juga mendengar bagaimana dengan gampangnya orang tersulut untuk melukai dan bahkan membunuh orang2 di luar etnisnya hanya karena masalah yang sebenarnya tidak akan seperti itu jika yang melakukan adalah sesama etnisnya. Saya jd ingat film “Rush Hour”. Bagaimana sangat berbeda respon orang2 kulit hitam waktu mendengar Chris Tucker yang berkata “What’s up my nigga?” dengan sewaktu Jackie Chan yang menyebutkannya. Kenapa orang begitu reaktif terhadap hal2 yang sebenarnya cukup sepele.

Kembali ke konflik pribumi dan non pribumi di Makassar. Konflik berbau rasial memang bukanlah hal yang pertama terjadi di Makassar. Bahkan di Indonesia hal ini sudah biasa terjadi. Dan lucunya, sepertinya penguasa memang melanggengkan hal ini terjadi. Taruhlah contoh peristiwa Toko La’. Atau kasus Benny di tahun 1995. Tidak dapat diredam dengan mudah oleh penguasa. Padahal pemerintah sendiri yang terus menerus mendengungkan program pengintegrasian masyarakat.

Lalu hari ini eksklusifitas terjadi dimana2. Orang yang mengaku pribumi hanya bergaul dengan pribumi. Orang cina hanya bergaul dengan cina. Lalu pertanyaan timbul, apakah orang cina sebagai pendatang merasa diri superior sehingga tidak ingin bergabung dalam komunitas pribumi? Ternyata jawabannya tidak. Konflik2 laten yang terpelihara sejak jaman baheula mempunyai andil besar dalam proses disintegrasi antar etnis yang terjadi di Makassar. Bahkan dalam kehidupan sehari2 kita dapat mendengar lelucon2 orang2 tentang orang cina. Hal inilah yang ternyata bukannya membuat orang cina menjadi merasa superior, malah menciptakan perasaan inferior dalam diri mereka sehingga terjadi sekat2 etnis dalam masyarakat. Rasa inferior ini yang kemudian menjadikan orang2 cina semakin tertutup bahkan dalam kegiatan ekonominya. Wajar saja jika kemudian roda perekonomian di Makassar dikuasai orang yang itu2 saja. Dan hal ini juga banyak memicu kecemburuan sosial karena orang cina yang dianggap pendatang ternyata menjadi majikan dari penduduk lokal. Tapi jika kita berkaca pada apa yang kita lakukan sehari2, seharusnya kita sadar bahwa secara tidak sadar kita sendirilah yang membuat sekat2 ini semakin tebal. Dan seharusnya masalah ini dapat terselesaikan bukan dengan cara pengepungan dan pengganyangan.

Proses integrasi di Indonesia bukan sekedar mimpi. Berkembangnya teknologi komunikasi dan kualitas pendidikan seharusnya membuat kita sadar bahwa semestinya tidak usah lagi ada etnis Superior ataupun Inferior. Seharusnya yang kita tuntut adalah agar kita memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan setiap fasilitas yang kita butuhkan. Bukannya malah kembali ke jaman batu dimana suku A dan suku B saling membenci dan berakhir di ujung parang.

Seharusnya budaya Siri’ yang dimiliki oleh orang lokal diperlakukan lebih intelektual dibanding hari ini.

"Manusia boleh mati, tapi ideologi akan selalu ada."

Dr. Ribka Tjiptaning Proletariyati

"Biar omong kosong yg penting kantong tidak kosong"

Anjing Gubermen

Public United Not Kingdom versus Serambi Mekah

Apa jadinya bila otoritas terlalu ditinggikan? Apa jadinya bila agama selalu dijadikan alasan? Apa jadinya bila agama dan otoritas bersinergi untuk menindas?

Itu lah yang terjadi dan dirasakan oleh 65 punkers (istilah untuk anak punk) di Aceh yg ditangkapi usai konser amal punkers di Banda Aceh beberapa hari silam. Mungkin penangkapannya bukan kasus spesial. Tp alasan penangkapan danperlakuan setelah penangkapan itu yg cukup menarik untuk dibahas.

Sebenarnya alasan penangkapannya cukup menggelikan dan tidak seharusnya keluar dari mulut orang2 penting seperti pejabat kepolisian setempat yg mengatakan mereka ditangkap karena potongan rambutnya tdk sesuai syariat. Hai Pak! Sejak kapan Islam ngatur model rambut? Belum lg perlakuan yg diterima anak punk ini setelah rambutnya digunduli. Mereka diceburkan ke danau di dekat SPN Seulawah. Kemudian waktu pejabat polisi ini ditanya alasan penceburannya, jawabannya karena itu tradisi kepolisian dan dulu waktu dia masuk Akpol juga dibegitukan. Hey, ini anak punk sob, bukan polisi. Kami rakyat sipil. Tidak mau tau apa tradisi di kepolisian.

Salah satu tokoh masyarakat pun berpendapat cukup aneh ketika ditanya tentang ini. Katanya anak punk itu pantas digunduli karena rambut mohawk mereka menghina Islam, mereka jarang mandi, bertatto, dan hidup di jalanan. Tolonglah pak… Sejak kapan ada model rambut yg menghina dan memuji? Jangan asal bunyi lah. Lagian kalo orang jarang mandi, bertatto, dan hidup di jalan kenapa? Ideologi Islam tidak tumbuh dari kepala yg botak dan baju koko.

Bukannya ini negara demokrasi ya? Bukannya disini org bebas berperilaku apa saja selama tdk merugikan orang lain? Bukannya disini jg tdk ada pemaksaan pemahaman politik dan keagamaan ya? Tapi kenapa yang sy lihat berbeda?

Kenapa model rambut dan penampilan dibatasi? Apa yg salah dgn celana belel dan rambut mohawk? Konstitusi Indonesia tidak pernah mengatur model rambut dan gaya berpakaian. Kenapa anak punk ditangkapi? Apa yg salah dgn gaya hidup mereka yg suka protes? Bukannya itu bagian dari dinamika demokrasi? Kenapa mereka dibungkam bahkan sebelum mereka bersuara? Inilah suara nyata rakyat bangsa, yg ingin didengarkan, yg ingin dihargai. Semua orang berhak bersuara, semua orang berhak didengarkan. Pemerintah jangan otoriter, tokoh agama jgn suka omong kosong. Surga bukan kalian yg cetak tiketnya.

Citra Indonesia tdk dirusak oleh punkers. Orang2 tualah yg merusak bangsa ini. Rambut mohawk tidak menimbulkan keributan, tp korupsilah yg memicunya.

Punk Indonesia bersatulah. Tinggalkan otoritas, bangun komunitas. Satu bumi tanpa penindasan. Public United!!!

Asap Hitam Titik Api

Sy yakin beberapa orang yg membaca ini pasti akan menganggap sy latah krn menulis tentang ini. Tapi apa salahnya orang menulis? Kelatahan bukan sebuah kesalahan menurut sy.

Akhir2 ini hampir semua orang akan bergetar hatinya ketika mendengar nama Sondang Hutagalung. Orang yg bagi sebagian kalangan cukup nekat untuk membakar dirinya di depan istana beberapa waktu yg lalu. Bentuk perlawanan jenis barukah? Ternyata tidak.

Bunuh diri sebagai aksi protes sudah sering dilakukan dalam proses sejarah umat manusia. Sebut saja aksi bakar diri biksu Thich Quang Duc di Vietnam Selatan menentang pemerintahan masa perang. Atau Romas Kalanta di Lithuania, dan Milachi Ritscher di AS. Bahkan di tahun 2010 pun aksi bakar diri masih menjadi trend perlawanan. Mohammed Bouazizi dari Tunisia tercatat sebagai salah satu orang yg menentang pemerintahan Tunisia dengan aksi bakar diri. Dan peristiwa itu memang menjadi trigger revolusi Tunisia yg terjadi hari ini. Jadi, bakar diri sebagai aksi protes bukanlah hal baru.

Namun yg banyak orang pertanyakan adalah mengapa sampai keputusan bakar diri ini yg diambil oleh Sondang almarhum. Bukankah banyak aksi lain yg bisa dilakukan? Mungkin bagi Sondang itu jalan terbaik. Aksi protes yg dilancarkan lebih banyak terbentur di pagar betis polisi huru hara dan dipukul balik oleh pentungannya. Mungkin orasi dan teatrikal bukan lg media protes yg baik bagi Sondang.

Mungkin dengan membakar diri di depan istana Sondang ingin membuka mata rakyat Indonesia bahwa kita tidak sedang baik2 saja. Kita sedang dalam masalah. Kita sedang ditipu oleh angka2 tentang kemajuan Indonesia hari ini. Semua angka itu bohong. Tidak ada kemajuan bagi kita, yang ada hanya hutang. Dana hibah pun sifatnya pinjaman. Gerakan separatis dimana2. Persatuan bukan lagi milik rakyat Indonesia.

Lalu mengapa mesti di depan istana? Ya karena di dalam istana itulah bercokol setiap orang yg menjadi momok bangsa ini. Yang menjadi beban bagi rakyat Indonesia. Yang menghambat kemajuan rakyat Indonesia. Yang di setiap doa2 malamnya selalu mendoakan agar rakyat Indonesia semakin bodoh agar kekayaan mereka terus bertambah. Titik api sesungguhnya ada di dalam istana merdeka.

Api telah tersulut dan asap hitam telah mengepul. Revolusi harus berkobar walaupun harus lebih banyak Sondang lain yg menjadi kayu bakarnya. Titik api harus terus mengeluarkan asap hitam, agar seluruh dunia tahu kita tidak baik2 saja.

UNTUK SONDANG, UNTUK INDONESIA.

There always be people who still work and get wet for little sum of money even it’s raining.

"Vi Veri Veniversum Vivus Vici (by the power if truth, i, while living, have conquered the universe)."

Faust

"Episentrum Dialektis; Membangun Integritas Kader Menuju Gerakan Sosial."

Tema Intermediate Training HmI Cabang Makassar Timur 2011

"I know a guy that can’t stop his evil talking like shit. He is a man, but he also is bitchy. He is like a bitch but with batangan."

Prayuda Said

Theme Edited By Nomadic Bastard and Powered by Tumblr 2010.
Typerwriter and Paper Image Courtesy of Google. Icon Credited to Webdesignerdepot